Senin, 21 Desember 2015

hari ibu



SAJAK UNTUK IBU PERTIWI….
Darah mengalir akan diganti dengan apa?
Tulang berserakan akan dikumpulkan bagaimana?
Tembakan menggila dari moncong bedil akan disentil dengan apa?
Masihkah kau ingat,
Tentang tangisan ibu pertiwi, menghujam dada
Sesak napas ibu pertiwi, karena asap yang tak kunjung padam,
Jerit ibu pertiwi karena anaknya korupsi,
Akankah ku dengar lagi?
Bodohnya generasi diera bebas mengenyam pendidikan,
Adilnya pengadilan dengan hakim yang tak mengerti apa2 mengetok palu,
Masihkah ku jumpai?
Mereka yang hanya memberi ketika menjadi selebriti tampil didepan televisi,
Masihkah ku dengar cerita tentang kartini?
Yang berjuang untuk emansipasi
Apa aku akan mendengar lagi? Bahwa munir kasusnya tak kunjung selesai,
Bahwa salim kancil nyawanya tak semahal tambang, bahwa warga singkep samin berjuang untuk sbuah tanah,
Masihkah? Masihkah ? ohhhh…..ibu pertiwi …..
Maafkan daku, sampaikan sribu salamku kepada anak-anakmu,
Malam ini dan seterusnya masih belum bisa ku kembali kepangkuanmu, untuk mengadu segala rasa dan cerita,
Tentang hal ini dan itu, masih belum bisa kejejak kan kaki untuk menghibur dikau yang lelah dan renta,
Tak bisa ku hadir dihari-hari masamu meninggalkan waktu 2015,
Terima kasihku untukmu ibu bertiwi, mengizinkan anakmu ini untuk tetap berada di bawah namamu.
Hormat kami ibu pertiwi,

Rabu, 25 November 2015

sajak untukmu miskar

Sepeda tua itu menginspirasi
siapa saja yang melihat
dikayuh tanpa lelah hingga hatinya ikut lelah,

siangnya ia nanti untuk sabar
menunggu dan menunggu anak tercinta
putri itu harta satu-satunya,
bagaimana iya bisa sesabar itu
hingga tutup usia kau tetap menanti
untuk yang datang setelah tau kau tiada,
yaitu istrimu yang merantau tak pulang-pulang.

Miskar-oh-miskar
kurus tapi segar,
tegas tapi sabar,
tak tampan tapi menyenangkan,
wahai guruku salam manis dari cintamu,


by nyah salam manis.

Kamis, 19 November 2015

IBU PERTIWI

Selama bagaimana kau tak malu
memjinjing darah fanatisme
selama apa kau merasa benar
membawa kepentingan kesana kemari
 Ibumu merintih menangis darah
ayahmu sakit terjerat pukat
selama apa dan bagaimana????

Sadarkah kau haribaannya sepi,
sadarkahkau dia tak lagi manis,
generasinya tak ada yang memperbaiki
jika semua hanya memandang materi,
apa kau sadar sedari itulah kita maju,

Kini dia akan bangkit,
masih akan dan akan
tak ada lagi yang mau tau,,,,
aaaaahhhhh biarlah

Selasa, 17 November 2015

Indonesiaku jendela mata air dibalik kalbu

SEJAUH APAPUN DAKU PERGI

HANYA RINDU KEPADAMU

HINGGA AIR MATA BERUBAH JADI AIR MATA PUN

TENTANG RINDUKU PADAMU YANG DULU

SUNGGUHKU TAK INGIN MENGUCAPAGI

TENTANG DAKU YANG INGIN MENINGGALKANMU TAK SATUPUN INGINKU ITU KEEMBALI

BIAR RASAA CINTAKU SEBESAR APAPUN TELAH KAU RAMPOK INILAH DAKU YANG MENCINTAIMU

SEBESAR APAPUN KAU DIBENCI INILAH DAKU YANG TETAP MENCINTAI.

Senin, 09 November 2015

MERDEKA


SAMPAI KAPAN?

Sebelumnya dulu aku percaya,
tapi kini rasa itu ternoda,
Sampai kapan?

tak pernah kubayangkan dirimu yang ramah tamah,
kini terbakar
hangus habis tak tersisa
bahkan hanya kerlap kerlip putih yang menghias langitmu,
sampai kapan?

Luka ini tak kunjung sembuh,
sakit ini tak segampang lakon dukun beranak mengaduh
mau sampai kapan?

aku rindu dirimu yang penuh tawa,
dirimu yang merindu lmbayung asrinya laut,
dan lumba-lumba menyapa dengan senyum,
 Indonesiaku,
aku rindu dirimu,


Kediri, 9 nopember 2015

Selasa, 27 Oktober 2015

KATA DARI SEBUAH RESTORASI 1998,


Lihatlah,
Lihatlah dia, matanya hijau laksana lumut air tak berpenghuni
Pikir.pikir. dia pikir terus-terusan hanya sebuah ironi
Punya mata tak melihat
Punya gambar hanya sekedar terpandang
Punya janji hanya sebuah bualan,
ingin rasanya aku muntah “huwek”  mengerti maksud yang hendak dipentingkan,
Disini kamu harus bisa beda.
Boleh bohong tak boleh salah,
Terus terjaga, seimbang antara hidup dan mati,
Yang katanya punya kata “ MERDEKA sesungguhnya” tapi mana?
Itu ya, ya itu setiap hari sekolah lewat jembatan  akar bakau  tanpa sepatu, atau yang ini mengais rezeki dari tangan-tangan iba berhati malaikat.
Atau  itu cantik, rupawan, paras elok, berhijab nan anggun bekerja membuat boneka,
Sungguh mulia,
Boneka,boneka iya boneka begitu besar nan jauh disana,
Di negara antrah berantah tak ada yang tau, adaanya sulit dijangkau , tak dijamah, kasat mata tak terlihat,
Bonekanya bukan hantu, bukan juga pulau apalagi Barbie lucu….
Tapi
Perusahaan, 
Perusahaan boneka made in dinasti ratu
Itukah yang masih mampu kita sebut sebagai kata dari restorasi 1998?