Minggu, 13 Maret 2016

stain kediri



Oh STAINKU oh UINKU
Dari ini aku sama seperti
Akan menceritakan hal indah bersamaan dengan waktu,
Waktu dimana kau dan aku duduk bersama memandang langit bertabur bintang,
Di depan hotel grand surya menunggu datangnya larut malam dan pergi diberbagai persimpangan,
Untuk berjumpa kembali 5 bulan yang akan datang,
Sekarang apa kabarmu STAINku?
Berada disini mebuatku bingung, tentangmu dan tentangku
Perihal status yang tak kunjung pasti,
Perihal predikat untukku yang terlalu tinggi,
Dipanggil-panggil namaku untuk Indonesia dengan sebutan dari IAIN Kediri,
Apakah kau sudah mengganti nama menjadi IAIN,
Bukankah targetmu adalah UIN?
Atau lupa akan saudaramu yang berada disebelah selatan, tepatnya daerah Tulungagung,
Bagaimana mungkin pemerintah akan menentapkanmu menjadi UIN jika saudaramu itu masih IAIN,
Bukannya hanya ada satu IAIN di karsidenan,
Jika aku salah maklumilah mungkin aku butuh pengakuan, akan nama dan predikat,


Minggu, 06 Maret 2016

ajakan



Menulusuri kehidupan baru, yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah. Jika itu mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Pernahkah kau mendengar pepatah lama mengatakan “lain ladang, lain pula ikannya”, pastinya kau juga sering mendengar artinya bahwa setiap daerah akan mempunyai perbedaan budaya. Tuhan pun akan berbicara tentang hal itu, pada surat al hujurat ayat 13 jika kau mengaku islam tanpa ku berceloteh panjang lebar kau tau maksut surat itu.
Kali ini ku benarkan kata Hanum Salsabila dalam novelnya 99 cahaya dilangit eropa. Bahwa bukan hal yang mudah hidup di luar negeri tanpa keluarga dan karib kerabat. Mencoba bertahan dari segalanya, mulai dari mengatasi kebosanan, kediaman, kehati-hatian, ketakutan dan tak tau lagi harus ku ceritakan dari mana.
Tinggal bersama tiga murid di asrama membuat ku sering ingin tertawa geli sendiri.  Saat-saat malam tiba, akan terdengar banyak jangkrik. Krik.krik dan rasa sepi akan datang dengan secara tiba-tiba daberingi dengan senyap yang sangat kuat. Sahabatku itu, bernama Aminah, ida dan Yaning. Tidak tahu mengapa mereka mempunyai kegemaran yang sama memainkan Hape tanpa henti-hentinya hingga tidak ada ruang kosong tersisa untukku banyak berbicara. Berekspresi macam apapun sebenarnya tak ada yang tahu. Tapi, apakah itu yang diinginkan, bukan. Bukan itu. Mungkin jika aku di Indonesia dalam posisi yang sama juga akan melakukan hal sama. Ngumpul sama temen buat kumpul doang dan sisanya waktu untuk gadget masing-masing ,huwek.
Aminah pendiam memang tak banyak bicara, beda dengan ida dan yaning yang banyak berbicara padaku. Tentang banyak hal yang kumengerti begitulah sajak tergambar orang jika mereka semakin pandai mereka akan semakin banyak bicaranya. Entah itu pandai dalam hal yang mana? Tebak sendiri saja. Narawith Islam menyajikan banyak keindahan yang tak biasa dipaksa untuk ditinggalkan. Sekolah ini sederhana tapi istimewa. Banyak siswanya 204 terbagi menjadi dua sub. Mutawassi dan thanawi. Mutawassi setingkat SMP jika di Indonesia. Sedangkan Thanawi sama halnya dengan Aliyah (SMA). Mereka akan menyebutnya dengan kelas 7,8,9,10,11 dan 12. Ma’had Narawith Islam oleh sebagian orang disebut dengan sekolah Pak Ju. Beliau selaku mundzir atau kepala sekolah. Dinaungi dibawah Yayasan Muslim Thailand Selatan Narawith itu yang menjadi sebab ketika ku tanyai tentang banyak hal mereka juga tak banyak yang menjawab dengan jelas. Pak ju dulunya adalah pemilik radio narawith Islam yang terkenal seluruh Narathiwat hingga akhirnya ketika beliau mempunyai sekolah, orang-orang memanggilnya sekolah pak ju.
Tak ada yang tidak baik untuk orang-orang rantauan jika ingin ditanyakan. Semua orang disini baik, tak ada yang tak menawari makan walaupun itu hanya hangat-hangat tahi ayam alias PHP. Tapi hal itu bukanlah halangan untuk tetap semangat meraih ilmu. Dalam catatan memori otak ku yang masih fresh ini kutemukan nama-nama itu, kak dah, kak sah, kak ti, kak hayati, kak nik, kak za, ustadzah halimah, ustadz de, ustadz hisyam, ustadz syeeh, ustadz harodi dan acan adun, acan mak, acan ahmad. Dari merekalah aku banyak blajar tentang cinta kasih kepada sesama walau tak kenal. Meski diri ini kadang tak paham, untuk apapun mereka akan  tetap berusaha dengan banyak hal. Begitulah hati ini menerjemahkan setiap waktu yang dirasa berat dan lama. Begitulah kasih ini menjawab karuniamu, beginilah diri ini menjawab nikmat yang kau beri, itulah kehidupan tangan-tangan Tuhan akan mendapati kau pada tempat yang tepat meski kau terkadang merasa tidak mencukupinya. Jika tinggal sepi dan senyap, bukankah pilosopi kopi banyak mengajarimu tentang hal yang berasa pekat. Kopi hitam tanpa warna akan banyak dinikmati meski berasa pahit. Itulah kehidupan meski merasa pait pasti akan tetap dirasa. Karena sesungguhnya bukan pahitnyalah yang kita cari tapi prosesnya.Jika Tuhan masih memperkenankan diri ini untuk kembali ke tanah air dengan selamat. Maka terima kasih Tuhan telah banyak mengabulkan do’a-do’a selama ini.amiiin.


Sabtu, 23 Januari 2016

Apa Kabar Indonesia

apa kabar Indonesia?
yang katanya tanah surga,
yang katanya emas berlimpah,
yang katanya tumbuh apa saja,
bagaimana keadaan freeport??? orang-orangnya masih makan ubi setiap hari kah?
bagaimana lapindo?? apakah masih tergenang lumpur,
bagaimana samin di rembang? kampung kecil surga tambang hanya untuk para kapitalis,
sudahkah kasus saut kelar?
sudahkah gafatar berdamai?
apakah semuanya selesai..
aku tak tau aku hanya mendengar kabar,
dari kawan seperjuangan di tanah airku Indonesia,
aku sendiri tak bisa hadir dan membela.
tapi aku ada persaan,
perasaan yang berbalut sayang, setiap harinya ku jaga dengan halus dan berhati-hati,
bagaimana aku nanti ikut membangunmu?
satu hal. ....
aku bisa ini,
menulis dan berkata meelalui media,
entah terbaca entah tidak aku tak pernah tau?
ingn kusuarakan keras-keras kepada dunia,
tentang negeriku, negeri diseberang sana, tapi apalah dayaku,,,









narawith islamic school, januri 2016. dititik lelahnya daku bersuara.

Senin, 18 Januari 2016

saut



Apa kabar saut?????
Dulu dinegara kami ada loo suka buat puisi terus ilang,
Ada lagi nulis diary tapi dibacakan untuk kawan-kawannya mati ..
Tapi tak ada yang tau dimana jenazah nya,
Tak ada yang paham dimana kuburnya??/
Sekarang ,
Kami heran juga sastra ada yang dipolitiki,
Ada loo sastra yang hanya untuk dijual,
Trus yang ngritik disidangkan,
Dihakimi entah cara berpikir mereka bagaimana tak tau ah,,,,
Sebenarnya aku tau kabarnya dari kemarin-kemarin waktu temanku post poto,
Tapi baru kutelusuri sekarang ,,,
Cintaku pada tanah air tetap menggebu,
Gairah itu tak kunjung padam meski sedikitpun,
Jika hinaan adalah hal biasa untukmu,
Maka pecinta yang dihina adalah hal luar biasa,

Selasa, 12 Januari 2016

kau



Sejak kapan kau tak menjadi kerajaan,
Hingga tangan-tangan itu membiarkanmu hidup menemui alur yang mantab,
  Matamu memancarkan nanar takut,
Semua panenmu dimabil orang lain,
Rakyatmu miskin,
Yang hanya bisa mengalirmengikuti alur hidup,
Menikmati udara tuk dihirup,
Itupun klau bisa dihirup,
Jika ada asap apakah masih akan bisa bernafas???
Bagaimana kau tak menamakannya keraajaan jika satu berkuasa kuat untuk yang lainnya,
Aku, sedangkan aku yang hanya bisa bersamma kawanku,
Belajar tidak egois belajar dinegeri rantau
Bukan brarti tak peduli tapi inilah sedikit rasa bangga kami menjadi bagianmu,
Aku juga tak mau kawanku mengejekku dari Negara sarang koruptor,
Negara rumah teroris,
Negara segudang bom, dan apalah,apalah.............................

masihkah?



Seberapa berani,
Ada yang menulis hilang
Ada yang beraksi tak kembali,
Ada yang mati tapi dibunuh,
Apakah itu demokrasi,
Perusahaaan kaya itu, menguasai semuanya,
Perusahaan itu milik pmerintahnya,
Warga itu menolak menjulnya, tapi dia akan terus membual,
Hingga berbagai janji ia keluarkan,
Inikah yang namanya berbagi?
Apakah kau tidak takut,
Sperti dia yang terpaksa menjual diri,
Hanya karena tak ada uang untuk enghidupi adik-adiknya,
Membayar utang rentenir,
Pagi ini, dan akan terus menjadi pagi seperti biasanya,
Meski jauh mendera, aku akan mencintaimu, Indonesiaku.


Nara, 12 Januari 2016.
Pondok narawit islam.